Sulitkah Usaha Kecil Berkembang pada Korea

Sulitkah Usaha Kecil Berkembang pada KoreaIni sesuai pengalaman aku yang ingin berwirausaha kecil-kecilan kepada Korea, mengingat anak-anak telah lumayan mandiri hanya perlu diawasi saja setiap hari jadilah mencoba berwirausaha. Sebenarnya suami lebih senang aku menjadi bunda yang full untuk anak-anak tanpa wajib disibukkan urusan pekerjaan. Namun, apabila dulu waktu anak-anak masih kecil okelah. Ketika anak telah mulai akbar & aku telah mulai bernapas lega karena gak perlu lagi nyuapin makan, gak perlu lagi mandiin. Jadi waktu nganggur aku banyak, aku ingin membantu perekonomian famili. Toh bisnis yang ingin aku rintis pula masih kepada dalam tempat tinggal.

Dengan mengantongi ijin bisnis dari pemerintah Korea atas nama suami yang memang berkewarganegaraan sana jadi mulailah aku mencoba berwirausaha. Awalnya aku coba jualan online, jadi aku tak perlu pergi keluar tempat tinggal & bisnis yang aku jalankan hanya melalui komputer.  Melalui sebuh mall online yang paling tepercaya kepada korea, yaitu Gmarket. Saya coba membuka sebuah toko. Barang yang aku tawarkan artinya tas wanita, mengingat aku suka sekali bareng banyak sekali macam tas, jadi kalaupun tak habis terjual dapat dipakai sendiri.

Saya memperoleh barangnya dari sebuah toko kepada mall grosir kalau orang Korea bilang Domeekkuk. Yang menjual barang kepada toko mall grosir biasanya mereka memproduksi barangnya sendiri bareng istilah lain mereka punya pabriknya. Buat sendiri jual sendiri sering mereka pula punya web jualan perusahaan sendiri (awalnya waktu itu aku taunya mereka tak menjual secara eceran).

Setelah beberapa tas coba aku pilih & aku beli bareng harga grosir. Saya perhitungkan harga beli & harga jualnya aku perhitungkan bareng saksama, agar sesuai & tidak mengalami rugi mengingat sewa toko kepada mall online Gmarket tidaklah murah pula sewanya. 

Jadilah harga yang aku tawarkan banyak pertimbangan. Contohnya harga barang yang aku beli & ditambah biaya sewa kepada mall Gmarket pantaskan apabila aku kasih harga 15% sampai 30% dari uang aku keluarkan untuk satu butir barang? Jika aku kasih harga misalnya itu apakah masuk kepada akal bareng syarat barangnya atau tidak? Banyak pertimbangan & yang paling aku pegang prinsipnya artinya untuk sedikit tak menjadi soal yang krusial banyak lakunya. JIka satu keuntungan akbar tapi cuma itu yang terjual ya sama pula boong? Mending pula banyak terjual tapi keuntungan per pcs-nya sedikit.

Setelah berhari-hari telah aku pajang tas tersebut kepada toko online, belum pula ada yang membelinya. Seminggu kemudian ada yang pesan. Cara pengiriman barang kepada Korea pula mudah aku dapat lewat online. Jadi apabila ada yang beli aku eksklusif pesan pengirimannya, besok petugas dari daerah pengiriman online yang aku pesan tiba. Dan besoknya orang yang memesan barang dari aku telah dapat terima. Jadi selama ini aku bekerja sungguh dari balik layar komputer. Jika pergi aku dapat awasi lewat layar HP, mengingat jaringan internet kepada mana-mana ada jadilah aku tak khawatir ada pemesan yang terlewatkan.

Saya sempat heran kenapa barang yang bagus misalnya itu kurang diminati padahal tas yang aku tawarkan sedang tren kepada Korea. Iseng-iseng aku coba ubek-ubek beberapa mall online serupa & aku terkejut ternyata si pemilik nama toko grosir ikut-ikutan menjual barang yang sama bareng yang aku jual kepada mall eceran tersebut bareng harga satuannya pula sama bareng yang grosir. Terang saja aku gak habis pikir kok dapat ya? Jika demikian, pemilik toko grosir tersebut mematikan bisnis kecil misalnya aku. Pantas saja banyak orang yang mencoba jualan online menentukan tutup karena mereka kalah bersaing dilema harga. Saya waktu memulai bisnis tersebut tak memikirkan  sejauh ini. 

Jika terus-terusan misalnya ini kentara saja barang yang aku jual gak laku. Saya mesti bersaing harga bareng toko grosir. Karena geregetan bareng hal itu kok dapat sampai terjadi aku putar otak gimana caranya biar bisnis aku jalan. Oho ternyata aku punya solusinya, karena kepada mana-mana yang namanya tas ya begitu begitu aja jadilah aku punya inisiatif membuat model sendiri & jual sendiri. Jadi barang yang aku jual cuma aku yang punya model & barangnya. Allhamdulillah suami mendukung, aku pun mempekerjaan seorang tukang jahit tas. Sesuai hasrat aku maunya bentuk tas misalnya apa, suami yang menggambar desainnya kepada sela-sela waktu malam waktu dia berada kepada tempat tinggal & iya buat pola lewat komputer, kepada-print & esoknya aku yang mempotong polanya. 

Ibu yang aku pekerjakan untuk menjahit dia yang menjahitnya. Barang-barang yang aku butuhkan untuk mendukung tas telah aku persiapkan terlebih dahulu. Saya membeli bahannya lewat pasar khusus menjual bahan-bahan untuk membuat tas & pula sepatu, karena aku tak membuat barang yang banyak jadilah bahan yang aku beli pula tak banyak. Setelah dihitung-hitung bareng biaya produksi & biaya sewa toko online ternyata tetap aku kalah bersaing dilema harga bareng toko grosir yang emang dia punya pabrik untuk memproduksinya & mereka dapat beli bahan baku bareng harga yang jauh lebih murah daripada aku yang membeli hanya beberapa yard saja. 

Akhirnya aku putuskan untuk menekan harga produksi bareng membeli bahan baku dari limbah pabrik, jadi harga bahan baku yang aku punya sangat miring. Kebetulan ada teman suami yang pekerjaannya kepada bidang itu. Setelah jadi tas dihitung bareng ongkos jahitan, sewa toko online & beberapa hal lagi jadilah tas yang aku tawarkan mampu bersaing bareng pemilik toko grosir. Saya jadi mikir bagaimana apabila kami tak membeli bahan limbah? & tak mampu membuat design & pola tas sendiri? Dipastikan bisnis kami yang baru dirintis hanya seumur jagung doang. Sekarang aku hanya bersaing dilema model tasnya saja, bukan lagi dilema harganya. Walaupun bahan baku yang aku beli artinya limbah dari pabrik tetap kondisinya masih baru. Limbah tersebut hanyalah sisa-sisa saja, tapi jangan keliru walaupun sisa dia mampu untuk didesain tas 50 pcs. 

Pataslah sekarang jamannya pabrik tas memproduksi tas & menjual tas sendiri. Hiksss apabila begini kepada Korea bisnis kecil sangat sulit berkembang karena tak mampu bersaing bareng perusahan akbar. Jaman yang serba internet, isu apa pun menggunakan internet jadilah cara berdagang orang pula sekarang lebih mudah. Bukan hanya tas, tetapi sepatu, baju pula demikian. 

Bahkan aku perhatikan, apabila dahulu petani menjual akibat taninya melalui penadah satu dari penadah satu ke penadah 2 & dari penadah 2 baru dapat masuk ke mall-mall atau toko-toko. Sekarang petani mampu menjual akibat taninya eksklusif ke mall-mall atau ke toko-toko tanpa wajib melewati penadah satu & penadah 2. 

Petani kepada Korea pula mempunyai peralatan yang serbamodern bahkan untuk pengemasan akibat pertaniannya pula mereka punya. Jadilah mall atau toko dapat eksklusif membeli barang daganganya dari petani. Petani pula mampu memperoleh keuntungan yang lebih banyak & mall ataupun toko pula demikian. Yang lebih diuntungkan lagi artinya konsumen yang semakin hari apabila dilihat harga-harga yang bersliweran kepada toko online harganya gila-gilaan. Di jaman yang serba keterbukaan begini membuat konsumen tak dapat lagi dipermainkan dilema harga. Petani tahu harga barang yang dia jual kepada mall & mall pula tahu harga yang dijual petani ad interim konsumen bareng mudah tahu pula harga yang sebenarnya.

Penadah kepada Korea sekarang hampir gak dapat untung karena bukan jamannya lagi penadah ikut-ikutan mencari keuntungan. Duduk tiong-tiong tinggal dapat untung berlipat. Ibarat istilah mereka hanya cuma lewat, membeli barang dari penjual & mengantarkan barang ke pembeli tapi keuntungan dapat ngalah-ngalahin untungnya petani. Sekarang petani gak butuh penadah karena pembeli & penjual telah dapat eksklusif bertatap muka.

Di Indonesia mungkin suatu waktu pula demikian? Atau jangan-jangan emang telah. 

Salam Sya, 2016.05.21