Sepondok Lima Cinta, Kisah Poligami Sukses

Sepondok Lima Cinta, Kisah Poligami Sukses

Topik istri lebih dari satu adalah info yg sangat sensitif kepada masyarakat kita, apalagi bagi para aktifis perempuan. Mereka niscaya akan serentak berteriak dengan lantang, No Poligami!!. Saya jua pernah terlibat aktif dalam kampanye gerakan gender kepada kampus dan masyarakat. Saya selalu menyarankan kepada para mahasiswa dan peserta diskusi buat hidup monogami sebab itu adalah prinsip dalam pernikahan Islam. Poligami ibarat pintu darurat yg tidak bisa setiap dikala dipergunakan.

Namun, beberapa waktu lalu, saya menerima tugas dari atasan buat bertandang ke sebuah pesantren yg berada kepada tempat Mojokerto dalam rangka belajar enterpreneurship.  Nama pesantren itu Riyadhul Jannah yg biasa diklaim Rijan. Pesantren ini  mempunyai sistem belajar yg sedikit beda dari pesantren  kepada biasanya. Sang pemimpin pondok, Kyai Mahfud,  mempunyai banyak usaha usaha yg dikelola sang para santri. Di sinilah, sang kyai menggembleng para santrinya buat bisa bisa berdiri diatas kaki sendiri tanpa harus bertopang kepada orang lain.

Jumlah santri kepada pesantren ini tidaklah banyak, hanya kurang lebih 200 orang yg sebagian akbar adalah anak yatim. Mereka diajari wacana kehidupan nyata dengan terlibat aktif dalam pengembangan usaha. Tidak hanya ikut dan dalam pengelolaan pertanian, mereka jua menjadi penggerak usaha usaha lain, misalnya kepada tempat tinggal makan dan pasar swalayan. Meskipun begitu, mereka tetap diwajibkan buat belajar formal, seperti belajar kepada kelas, kuliah, sampai mengaji sorogan kepada kiayi. Pesantren itu sudah menghasilkan sistem yg menggabungkan antara belajar formal kepada kelas dan belajar kehidupan kepada lapangan.  Di antara usaha suksesnya adalah pertanian aneka sayuran organik, peternakan banyak sekali jenis ikan, peternakan bebek, air minum bks, taman bunga, dan mini market. Selain itu, mereka jua mempunyai kebun kelapa sawit dan sagu kepada Malaysia, sejumlah tempat tinggal makan (Quick Chicken dan Wong Solo) , butik, dan pabrik tas. Tentu, saya sempat didesain kagum sang contoh manajemen yg mereka kembangkan dengan nuansa pesantren yg kental.

Di samping kesuksesannya mengantar dan mengawal para santri menjadi usahawan, Kiyai Mahfud mempunyai keunikan tersendiri. Beliau mempunyai 4 orang istri dan 20 anak yg semuanya itu tinggal kepada satu tempat tinggal. Wow, luar biasa, bukan? Beliau mempunyai prinsip sederhana buat menjaga rekanan serasi dalam keluarga, yakni menjaga komitmen dengan dengan pencerahan diri dan saling mengalah. Ketika ditanya wacana proses pencarian istri ke 2 sampai keempat, lagi-lagi kisahnya menghasilkan saya geleng-geleng kepala. Para istri baru itu adalah output rekomendasi dari istri/para istri sebelumnya. Misalnya, istri ke 2 adalah rekomendasi istri pertama. Lalu, istri ketiga adalah output pilihan istri ke 2 dan ketiga. Terakhir, istri keempat adalah output seleksi dari tiga istri sebelumnya. Pada waktu akad nikah, ketiga istri itu mengawal sang istri modern sambil menautkan tangannya ke jemari suami mereka. Mereka nampak begitu rukun dan hening, tampaknya mereka lapang dada berbagi cinta dengan sahabat karibnya.

Apakah itu didesain-buat? Saya masih yakin bahwa itu sahih adanya. Para tamu bisa berkenalan dan bertanya langsung kepada para istri itu dikala ramah-tamah. Sebagai indikasi penghormatan kepada para tamu, para istri itu menghidangkan kuliner khas pesantren yg diolah dari output perkebunan dan peternakan mereka sendiri secara cuma-cuma. Di sini, saya meskipun agak sedikit hukuman, berani berpendapat bahwa  istri lebih dari satu jikalau dilakukan dengan keikhlasan nampaknya tidak akan banyak menyulut problem baru. Artinya, waktu kebutuhan lahir batin seseorang istri terpenuhi, maka mereka pun bahagia menjalani hidup tanpa beban stigma yg berat. Malah, mereka bisa menjadi contoh bagi pasangan monogami yg bermasalah.  Mereka yg hidup dengan banyak pihak saja bisa tenang, masak orang lain yg hidup dengan satu pasangan saja selalu ribut tiap hari.  Malu, kan?

Dari sini, saya bisa mengambil kesimpulan bahwa seseorang yg ingin beristri lebih dari satu harus memenuhi beberapa kondisi wajib, diantaranya harus kaya, adil, beriman bertenaga, sabar, bisa mengayomi semua istri dan membentuk suasana afeksi dan saling mengalah dalam keluarga. Kalau begitu, istri lebih dari satu bisa konteks Kyai Mahfud bisa mengangkat derajat wanita, bukan malah sebaliknya.  Tetapi, jikalau tidak bisa memenuhi standar itu, maka jangan pernah bermimpi buat istri lebih dari satu.bahaya!!!

Salam,

Dirman