Book Review Kisah InspiratifSang Pahlawan Sunyi

Book Review Kisah InspiratifSang Pahlawan Sunyi "]

Dalam rutinitas keseharian tidak jarang kita abai terhadap orang lain. Kita sendiri yg mengambil jeda. Menggali lubang. Seolah kita membiarkan orang lain kepada seberang sana, sementara kita kepada seberang sini. Tak timbul perjumpaan apapun. Jangankan perjumpan empatik, menyapa saja nir.

Otak kita semakin dibebalkan oleh isu yg seolah tiada bagusnya. Korupsi, perampokan, goresan, longsor, banjir, konflik kekerasan, Negara abai, & seribu satu isu yg setiap hari nyinyir kita dengar. Sementara panggung yg digelar secara hingar-bingar oleh elit, hasilnya tidak sepadan dengan berisiknya.

Apakah kehidupan sudah mangkat? Tidak. Di luar sana, jauh berasal gebyar & hingar-bingar poly dijumpai para pahlawan yg bekerja ibarat akar. Mereka menebar manfaat, menabur kasih, memberi inspirasi melalui tindakan-tindakan sunyi. Sepi. Karena mereka bekerja dengan hati, tidak butuh pamrih.

Inilah yg dikisahkan dalam kitab Hidden Heroes, Para Pahlawan Sunyi dengan Tindak Nyata . Buku ini adalah 7 kisah orang-orang pilihan yg telah memperoleh penghargaan berasal Kick Andy. Penghargaan terhadap 7pahlawan sunyi ini adalah hasil berasal seleksi panjang yg dilakukan oleh para dewan juri yg integraritasnya cukup kita kenal yaitu FX Muji Sutrisno, Prof Dr, Komaruddin Hidaya, & Sosiolog Dr. Imam B. Prasodjo.

Bed Man = Great Man

Buku ini dibuka dengan kisah seseorang yg mengalami keterbatasan fisik, bahkan tidak berdaya kepada atas ranjang. Itulah si bed man, Pepeng si Jari-jari. Tetapi percayakah Knda bahwa keterbatasan fisik nir menghalangi pepeng buat berbagi dengan sesama, atau menjadi penggerak perubahan?

Pepeng semenjak 2005 hingga kini mengidap penyakit multiple sclerosis (MS). Penyakit ini menyerang system saraf pusat, mensugesti otak & sumsum tulang belakang dalam mengendalikan organ tubuh yg menyebabkan kepada tergangggunya panca alat (hal. 15)

Aika penyakit kambuh mengirim rasa nyeri yg sangat luar biasa. Tetapi pepeng menolak jalan pintas. Ia anti meminum obat pereda nyeri alias painkiller. Ia pun menampik apabila dibilang korban keganasan MS. Saya nir mau jadi victim atas sakit saya, istilah pepeng. Dengan nir menjadi korban atas penyakitnya sendiri, pepeng mampu menguatkan diri (hal. 19)

Tidak saja fisik, Pepeng jua berjuang mengendalikan emosinya. Ia mencoba buat nir merasakan sakitnya. Pepang belajar mengendalikan emosi dalam aneka macam wujud rasa gembira, marah, duka, kecewadan semua hal yg menjadi asal kambuhnya MS. Masa saya gembira, kok, malah kumat, selorohnya.

Di tengah keterbatasan, berasal kamarnya yg berukuran kurang lebih 5×4 pepeng nir bisa dicegah buat mengadakan perubahan & memikirkan orang poly.Saat ini pepeng punya mimpi merevitalisasi kearifan local (local wisdom) yg mulai ditinggalkan oleh poly daerah kepada Indonesia. Ia ingin melakukan gerakan social, & saat ini sudah mulai dengan mengidentifikasi kearafian local mulai Jawa, Batak hingga Menado. Ia sudah menebar kadernya kepada 118 titik (hal.30)

Ia membayangkan kepada tiap desa timbul local leader yg bisa mendorong desanya buat maju. Ia berkomitmen akan melatih & memotivasi kader & calon leader. Bahkan pepeng siap tinggal kepada sejumlah desa selama 3 bulan buat menggali potensi & kepemimpinan local (hal.31)

Nyala Lilin dalam Kegelapan

Kisah lain dalam kitab ini artinya pahlawan sunyi bernama Priska Smith Jully, lahir 1978. Ia menderita kebutaan karena waktu dalam kandungan beliau dipaksa digugurkan. Orang tuanya waktu itu mengharapkan anak laki-laki.

Dalam kondisi buta beliau kurang mendapatkan perlakuan adil berasal orang tuanya. Akibatnya beliau hanya menuntaskan sekolah hingga kelas 5 SD, karena orang tuanya lebih mengutamakan saudara-saudaranya yg normal.

Priska pun berusaha sendiri dengan menghasilkan & berjualan kue. Tak menemukan penghidupan yg layak kepada Jambi, beliau putuskan merantai ke Ibu Kota. Ia pun melakoni aneka macam pekerjaan mulai berasal karyawan pabrik tas, kondektur bus, hingga menyanyi kepada caf & pub kepada Jakarta. Bahkan priska pernah terjerumus ke global hitam menjadi peminum. Ia pernah berusaha bunuh diri dengan menyilet tangannya (hal. 81)

Cahaya bersinar. Ia diajak oleh temannya buat pergi ke kepercayaan. Tahun 2004, oleh komunitas agamanya, beliau dikirim ke Semarang buat mengikuti workshop kepemimpinan & pendidikan karakter. Di Semarang itulah lakon usaha Priska dimulai, dengan berbagi kepada orang-orang yg terbuang.

Perjuangannya dimulai kepada tahun 2005. Dekat loka kosnya beliau bertemu dengan perempuan yg lumpuh hasil polio. Ia rawat dengan sepenuh kasih kepada kamar kosnya. Sejak saat itu, priska ibarat malaikat penolong orang yg terbuang. Satu-persatu mereka datang semenjak difabel, baik stigma anggota badan jua mental, bahkan mantan residivis (hal. 84)

Priska melayani tanpa memandang kepercayaan & etnis. Yang memperoleh pelayanan Priska mulai semenjak Aceh, Kendari, Kalimantan, jua Papua. Orang-orang yg terbuang kini hidup bersama Priska & suaminya kepada sebuah rumah kontrakan baru berukuran 100 meter persegi. Jumlahnya kurang lebih 80 orang (hal. 79).

Dalam kondisi buta, Priska mirip nir memikirkan dirinya. Uang sendiri beliau habiskan buat melayani orang yg terbuang ini. malah dengan kesabarannya Priska menyuapi mereka waktu makan.

Masih timbul 5 pahlawan dalam kitab ini yaitu Adi Suhandi yg mendampingi anak jalanan kepada bekasi, Paris Simbiring Perintis Bank Pohon, Johannes Barnabas Ndolu sang pendobrak jeratan istiadat, Lies Koesbiono pengabdi hidup bagi penyandang stigma, & Robin Lim M, perempuan kelahiran Amerika yg tinggal kepada bali berjibaku menyelamatkan Ibu & anak.

Semua kisah ditulis dengan gaya features yg menyentuh, & gaya reportase yg memikat. Tetapi yg paling penting, kisah 7 pahlawan sunyi inilah yg lebih memikat. Kisah-kisah yg dari saya bisa menjadi asal inspirasi bagi siapa saja yg menyisihkan waktu, uang, energi & pikirannya buat orang lain. Sekecil apapun & kepada manapun. Dengan cinta, dengan hati.

Matorsakalangkong

Sumenep, 22 maret 2012