Belajar Usaha di Wisata Bisnis Ciampea Bogor

Belajar Usaha di Wisata Bisnis Ciampea Bogor

Ketika belajar pada sekolah artinya hal biasa, bagaimana dengan belajar pada luar sekolah? Mungkin bagi sebagian orang belajar pada luar sekolah dipercaya sesuatu yang ga kentara alias abstrak. Gimana mau belajar kalau ga timbul kelasnya? Ga timbul bukunya? Ga timbul laptopnya? Bagi sebagian yang lain, belajar pada sekolah akan membawa banyak contoh buat keberhasilan & kegagalan yang konkret, menteri kita yang baru Ibu Susi misalnya. Mana yang lebih baik? Ya tentu 2-duanya baik. Sekolah memberi teori, luar sekolah memberi contoh konkret. Oleh alasannya adalah itu tempat saya bekerja, MAN Insan Cendekia Serpong menjalankan acara Aplikasi Pembelajaran Lapangan minggu kemarin ke wilayah Ciampea Bogor.

Kenapa kesana? Tawan wisata Ciampea Bogor merupakan wilayah perjuangan warga bogor yang mencakup banyak bidang perjuangan, dari perjuangan makanan seperti produski nata de koko & kerupuk, hingga pada perjuangan tas yang memperoduksi tas dari bahan kulit juga sintesis, bahkan perjuangan herbal, produksi jamu buat kesehatan. Puluhan bidang perjuangan dikelola dengan baik & menjadi mata pencaharian penduduk sekitar, tidak hanya buat memenuhi kebutuhan lokal Jabodetabek, bahkan juga ekspor ke mancanegara.  Dengan belajar perjuangan pada sana diperlukan siswa mengerti secara penuh mengenai wirausaha setelah pada sekolah belajar mulok mengenai entrepreneurship, & terangkat semangatnya buat jadi pengusaha!

Kegiatan ini kami awali setelah subuh. Jam 6 kami berangkat dari Serpong & hingga pada sana jam 8. Kami disambut sang odong-odong yang siap megantar kami ke kampung wisata. Setelah empat odong-odong bolak balik mengangkut kami, sampailah kami pada sebuah area penyambutan, namanya Kampung Joglo. Di sana kami disambut sang sang penggagas kampung wisata, Ibu Tatik. Ibu Tatik kemudian menyampaikan sambutan, & memutar video sekilas mengenai kampug wisata Ciampea. Setelah itu beliau menyampaikan seminar motivasi yang bertujuan buat menggugah, mencerahkan kami akan kegiatan perjuangan/perjuangan yang dilakukan.

Beliau menyampaikan renungan akan pentingnya belajar perjuangan dari muda, memberi motivasi pada kita supaya mau berusaha & bekerja keras. Mengingatkan kita akan orang tua & kebutuhan kita pada masa depan. Semuanya menyampaikan kesan yang menyentuh hati. Banyak siswa saya yang menangis ketika sesi renungan. Siswapun mendapat kesempatan buat mencurahkan isi hatinya waktu menangis setelah sesi renungan.

Ketika masuk pada sesi perjuangan, Ibu Tatik menyampaikan sedikit tips berbisnis. Dengan 2 siswa sebagai sukarelawan, kita mencoba mengidentifikasi kebutuhan 2 orang tersebut berdasarkan pada asa & hobi mereka. Bisnis wajib memperhitungkan kebutuhan orang dalam mencapai apa yang diinginkan atau dicita-citakan. Contoh, ketika seorang ingin menjadi seniman, maka banyak hal yang dibutuhkan, seperti kosmetik, baju, tas & lain sebagainya. Ketika seorang ingin buka kursus, yang akan dibutuhkan artinya kamus, guru & lain sebagainya. Berbisnislah berdasarkan pada kebutuhan orang/pasar.

Ibu Tatik juga membicarakan cerita mengenai keberhasilan seseorang yang diraih setelah orang mendapatkan kegagalan, seperti alat pengoreksi tip Ex diciptakan ketika orang melakukan kesalahan dalam menulis begitupula tensoplas diciptakan ketika gagal terus dalam mengobati luka seseorang. Kegagalan bukan akhir segalanya, kegagalan bisa menjadi keberhasilan yang luar biasa. Disampaikan juga cerita mengenai Ikan Salmon.  Bagimana ikan salmon berjuang buat hidup mencari makan, berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya, melawan arus, & suatu waktu kembali ke tempat asalnya buat bertelur & berkembang biak. Tidak sedikit pada antara ikan salmon yang meninggal dalam menerjang arus. Cerita dari Ikan salmon menyampaikan kita pesan yang tersirat pentingnya bekerja keras bila kita ingin sukses. Cerita Salmon ini mengakhiri sesi seminar.

Selanjutnya kami berkiprah ke sesi kunjungan ke pabrik & praktek produksi. Kami mengunjungi pabrik kerupuk & tas, & melakukan praktek produksi nata de koko, herbal, pernik hias, & daur ulang. Kegiatan ini kami lakukan secara bergantian. Kami diantar naik odong-odong mencapai lokasi. Lokasi pabrik kerupuk agak luas, terdiri dari ruang produksi kerupuk yang berisi, mesin & penggorengan dan penghangat, & lokasi penjemuran kerupuk yang beralaskan batu sungai, berfungsi buat memanaskan dari bawah. Kerupuk yang didapatkan timbul 2 jenis, kerupuk putih & kerupuk coklat yang biasa kita dapati pada warung-warung. Kerupuk sebelumnya diolah dalam mesin sehingga membuat gabungan kemudian gabungan seperti coklat coki-coki keluar & ditampung dan dibentuk kerupuk. Kerupuk kemudian dipanaskan & dijemur. Kerupuk dijemur pada atas sinar surya & bagian bawahnya panas dari batu. Harga 1 kerupuk pada pabrik artinya 300rupiah.

Setelah dari pabrik kerupuk kami ke pabrik tas yang letaknya berseberangan. Gedung buat pembuatan tas dipenuh dengan bahan mentah sintesis, alat cetak, alat jahit, & lain sebagainya. Saat kami tiba bertepatan dengan waktu makan siang jadi kami tidak melihat proses pembuatan, namun dijelaskan langkah-langkah dalam memproduksi tas. Kami kemudian diarahkan ke toko tas yang berada pada seberang pabrik. Toko tersebut agak sederhana diisi majemuk tas akibat olahan pabrik. Kata penjaga toko, bila hingga pada pasar harganya bisa menjadi 2 kali lipat. Kalau kita beli pribadi dipabrik dalam jumlah banyak harga bis turun hingga harga pasar. Jadi kalau beli banyak pada pabrik 30ribu, sesampai pada kota harga bisa mencapai 120ribu.

Setelah dari pabrik kami pribadi menuju tempat praktek pembuatan. Ada empat proses produksi yang bisa dicoba: pernik, daur ulang, herbal, & natadekoko. Siswa kami kelompokan menjadi 4 sinkron proses produksi yang tersedia. Kemudian tiap-tiap gerombolan melakukan praktek pada waktu yang sama dalam sebuah area yang sama. Kegiatan ini berlangsung seru & menyenangkan. Siswa berkesempatan buat mencoba memproduksi produk dari bahan mentah hingga menjadi barang jadi atau produk jual. Pernik terbuat dari bahan primer terigu, daur ulang dari kertas bekas, nata dekoko dari kelapa, sedangkan herbal dari tanaman. Semuanya diramu sedemikian rupa dengan proses tertentu, sehingga jadi barang siap jual/siap gunakan.

Setelah kegiatan terselesaikan, kami sholat & makan siang kemudian diteruskan dengan aneka macam/sharing antar gerombolan. Tiap gerombolan bercerita mempresentasikan apa yang telah diikuti/dilakukan kepada sahabat-temannya sehingga setiap anak mendapatkan cerita mengenai keempat proses produksi yang tersedia pada hari itu. Kami membatasi hanya empat proses alasannya adalah keterbatasan dana yang kami miliki. Tetapi Alhamdulillah seluruh siswa suka & mendapatkan pengalaman yang sangat berharga belajar perjuangan pada Ciampea Bogor. Semoga timbul yang menjadi pengusaha pada masa depan. Sore harinya kami balik  ke Serpong.